Minggu, 31 Oktober 2010

masyarakat perkotaan dan pedesaan


ARISAN RUMAH

Dari Geribik ke Rumah Gedong



KOMPAS/YULVIANUS HARJONO

Sejumlah warga Dusun II, Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah, bahu-membahu membangun rumah milik tetangganya, Sabtu (25/9). Seluruh materi, biaya, dan tenaga untuk membangun rumah tersebut didapat dari arisan.

Oleh Yulvianus Harjono


KOMPAS.com - Budi Rahardjo dari Heifer International Indonesia tertegun saat berkunjung ke rumah Iwan Darmawan, penyuluh kehutanan di Lampung Tengah. ”Wah, beberapa bulan lalu masih geribik, sekarang sudah jadi gedong,” kata Budi Rahardjo.

Merasa penasaran, tamu lainnya pun bertanya, ”Dari mana dananya? Kok hebat betul bisa langsung bangun rumah?” Tak ingin membuat tamunya kian penasaran, Iwan yang bekerja sebagai penyuluh kehutanan tanpa digaji ini pun menjawab, ”Dari uang kocokan arisan. Kalau tidak, mana bisa.”

Iwan tidak sedang bercanda. Rumah berdinding bata tapi belum diplester itu, dan beratap genteng tapi belum berplafon itu, memang dibiayai dari hasil arisan rumah yang sejak lama membudaya di kalangan warga di Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah.

Bagi warga di perkotaan, arisan identik ajang para ibu rumah tangga berkumpul. Terkadang juga begitu lekat dengan hal-hal berbau negatif, macam wadah gosip dan pemicu konsumerisme. Bahkan, tak sedikit arisan dijadikan ladang mencari duit oleh mereka yang licik. Media tidak jarang memberitakan bagaimana uang arisan dibawa lari oleh oknum pengelolanya.

Di Sendang Agung justru sebaliknya. Arisan betul-betul dimanfaatkan untuk tujuan bersama dan kebaikan anggotanya. ”Kami ini sadar kalau serba kekurangan secara ekonomi. Untuk bangun rumah sendiri, tidak mungkin. Satu-satunya cara, ya, saling percaya, kumpulkan modal lewat arisan ini,” ujar Iwan yang juga ketua arisan rumah di kampungnya di Desa Sendang Asih, Lampung Tengah.

Di kelompoknya, jumlah peserta arisan rumah ada 22 keluarga. Iuran arisan bukanlah uang, tapi berupa natura. Tiap kali penarikan, anggota menyerahkan iuran wajib berupa 3 zak semen, 10 kilogram beras, 3 kantong paku, dan 1 pak rokok.

Dengan pola iuran berbentuk natura, warga yang mendapat kesempatan ”narik” terakhir tak perlu khawatir nilai materinya menyusut akibat inflasi. Berbeda jika iuran dalam bentuk uang, yang nilainya akan terus menyusut dari tahun ke tahun.

Pemecahan Masalah :

Kadang pemikiran orang di daerah pedesaan lebih baik dari pada orang didaerah perkotaan, jadi tidak harus selalu orang desa mengikuti kebiasaan orang kota. Justru orang kota harus lebih banyak mengambil contoh dari orang desa, seperti cara bermusyawarah, gotong royong, rendah hati dan sebagainya. Arisan tidak harus selalu identik dengan pamer kemewahan, akan lebih baik jika arisan digunakan untuk menyambung tali silaturrahmi sembari menolong sesame, bisa dengan disumbangkan kepanti asuhan, atau pun untuk membantu keluarga yang kekurangan.

Sumber :

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/13/07300999/Dari.Geribik.ke.Rumah.Gedong


0 komentar:

Posting Komentar